Hai There!
Nah kan bener
aja terbengkalai. Setelah sekian lama baru inget punya tempat buat nulis.
Hampir setahun dari tulisan pertama, parah sih. Asli kesenengan
corat-coret di kertas walau tulisanku geradakan bak ceker ayam cemani. Mumpung
lagi inget dan santai aku pengen nulis tentang apa yang aku alami
belakangan ini. Untuk temen-temen yang usianya di atasku, mungkin udah khatam
dan menganggap hal ini hanya secuil dari pengalaman hidupnya, tapi buatku ini
lumayan kena sih haha. Dengan mengucap basmallah aku mulai sesi curhat
klise ini.
Alhamdulillah, setelah tahun baru masih
dikasih sehat. Sampai tulisan ini dibuat sayangnya masih pandemi. Kemarin lihat
di Twitter ada artikel katanya pandemi di Indonesia bakal beres 3 Juni, tapi
entah tahun berapa. Bersyukur banget di tengah kondisi yang masih
mengkhawatirkan ini aku masih bisa makan soto campur pinggir jalan, masih
bisa buka sesi QnA tengah malem sama Mamah sampe pagi buta, dan masih bisa
nyium aroma rambut adikku yang ga keramas tiga hari (aman berarti indra
penciuman, hhh panik).
Udah setahun
lebih aku bergabung dengan tempat kerja yang sekarang. Setiap bulan, di
tempatku bekerja ada survei kesehatan fisik dan mental. Pihak pengurus
ingin memastikan bahwa anak-anak yang bernaung di bawahnya dalam kondisi sehat
sentosa. Aku yang doyan curhat bener-bener manfaatin questionaire itu.
Saking open-nya sampe pemilik tempat kerja khawatir sama kondisku
haha. Kepada Bunda, mohon maaf aku menambah pikiran.
Tapi ya..
gimana ya. Aku ngerasa sehat secara fisik, tapi ga secara batin. Aku merasa
ritme hidupku begitu lambat. Ibarat yang lain udah lari ke Uzbekistan, aku
masih di Cimahi. Aku mengerti kalau setiap orang itu punya timeline-nya
masing-masing, jadi ga usah terburu-buru. Tapi tetep aja aku selalu
merasa tertinggal. Sedikit sekali perubahan yang aku alami. Aku ga menemukan
titik besar dalam hidupku.
Aku melihat
orang-orang di sekitarku udah jauh bertumbuh dalam banyak hal. Ga kehitung
berapa sering aku heran dan bertanya, lha kok bisa.. cepat sekali.. Sering
kudengar bahwa kita ga boleh membandingkan diri dengan orang lain, seharusnya
kita membandingkan diri dengan diri kita sebelumnya. Asli paham. Tapi gimana,
pada praktiknya aku ga bisa menutup mata dan telinga. Menurutku di satu
sisi ada manfaatnya melihat sekeliling jadi tambah semangat, tapi sayang di
kasusku yang bikin sedih dan mindernya lebih banyak haha.
Akhir-akhir ini
aku juga lebih sering merasa kecewa. Banyak banget hal yang terjadi ga sesuai
dengan rencana, ditambah banyak juga penolakan yang aku terima. Tiap malem
sebelum tidur aku sering mandang ke satu titik, tempelan bintang glow
in the dark yang aku pasang di langit-lagit kamar waktu SMP. Overthinking ceritanya.
Kata yang sering muncul adalah “Naha ya?” (baca: kenapa ya).
Dulu waktu
kecil, aku suka lihat tetangga yang umurnya sekitar 20-an. Aku selalu kagum
sama mereka. Aku dulu mikir, keren ya jadi teteh-teteh (baca: kakak perempuan).
Terlihat dewasa, bijaksana, mandiri dan berguna buat orang banyak. Terkesan
bebas dan settled aja gitu. Nanti aku kalau udah gede juga mau
jadi teteh-teteh kaya gitu. Ternyata pas sampe umur 20-an aku sama sekali ga
dapet aura teteh-teteh, aku masih merasa ya begini aja. Boro-boro arif dan
bijaksana, hobinya aja being silly.
Ternyata bukan
orang lain yang bikin aku kecewa, tapi aku dikecewain sama harapanku sendiri.
Ekspektasi terkadang membunuh itu benar adanya. Berharap pada diri sendiri aja
masih sering dapet zonk, apalagi berharapa sama orang lain. Itu sih
yang aku baca dari postingan akun motivasi haha. Udah paling bener berharap
pada Tuhan. Sungguh terkesan agamis, tapi cuma itu yang paling minim risiko dan
bikin tenang.
Temen-temen
suka bilang, itu tuh namanya proses pendewasaan. Kalau ditanya siap atau engga
jadi dewasa, jawaban aku sampe sekarang masih sama, engga siap. Ga ada yang
ngajarin gimana caranya jadi orang dewasa. Aku harus belajar sendiri, asli ga
enak jadi orang dewasa. Kocak sih hal ini ditulis sama anak 20-tahunan, tapi
yang aku rasain ya begitu haha. Adanya kekurangan
tersebut sering bikin aku merasa kosong, sedih. Aku jadi lebih rentan
dari biasanya, masih bisa hahahihi tapi hampa.
Hai apa
kabar?..
Lagi sibuk apa
sekarang?..
Dulu aku seneng
banget kalau ada yang tiba-tiba kirim pesan dua kalimat itu, berasa ada yang
peduli dan ingat aku. Tapi di masa sulit, dua kalimat tanya itu malah jadi hal
yang paling aku hindari. Bingung jawabnya gimana. Terutama kalimat kedua.
Kalimat ramah kaya gitu bisa-bisanya terkesan offensive. Aku
tanya ke temenku, ternyata mereka juga pernah merasakan hal yang sama. Mereka
bilang ini wajar, tapi ga nyaman asli.
Aku udah
berusaha buat banyakin kegiatan selama ga ada project. Tapi
tetep aja, aku ngerasa hari berjalan sangat berat, dan waktu lebih cepat
berlalu. Suasana hatiku lebih sering mendung dibanding cerah. Nyebelinnya lagi,
aku malah berisikin notifikasi temen-temen karena ngerasa butuh ngobrol, biar
tetap waras. Bener-bener useless. Bersyukur masih punya
temen-temen yang ngingetin aku kalau aku ga sendirian. YNWA katanya, Liverpool
punya. Jujur kalimat baik dari mereka bikin aku reda, tapi beberapa waktu
setelahnya riuh di pikiranku tetap ada. Abu-abu, bawaannya sendu.
Bulan Maret,
aku dihubungi pemilik tempat lamaku bekerja, mereka bilang masih
butuh tambahan armada, Alhamdulillah. Tanpa babibu tsasisu aku terima. Aku yang
biasanya kerja project based, jadi kerja full day. Banyak
yang harus diurus. Komunikasi sama banyak orang, ngurusin ini-itu, lari
sana-sini dan hahahihi sama temen kerja bikin aku penuh. Jujur cape, pegel
sebadan, butuh doping vitamin sama minyak kayu putih, tapi aku
merasa hidup.
Ada satu waktu
pelanggan dateng langsung. Ibu dan seorang anak laki-laki, ramah dan sopan
sekali. Di akhir kunjungan aku antar mereka ke depan. Saat pamit sambil
mengepalkan tangan, Ibu itu menatap mataku lalu bilang "Semangat ya teh
kerjanya!", hangat sekali. Sampe sekarang juga masih kerasa.
Di waktu kosong
aku suka iseng lihat ulasan pelanggan. Aku senyum-senyum sendiri bacanya,
seneng ya ternyata bisa berguna buat orang lain, capenya kebayar. Walau pernah
bikin kesalahan terus dinasehatin sedih sedikit, gapapa jadi belajar
juga. Bersyukur masih dikasih kepercayaan dan dikasih tau salahnya dimana.
Meskipun mungkin belum
rezeki dapat penghasilan tinggi tapi aku bersyukur, setidaknya aku bisa
nyoret salah satu wishlist adikku yang pengen pasir
kinetik warna ungu, seperangkat cetakan dan alas main pasirnya
dibayar tunai. Asli sepele banget, tapi pas doi unboxing paket
ala-ala reviewer sambil hahahihi ada kepuasan batin
tersendiri. Korban youtube haha tolong.
Beberapa hari
lalu, pemilik tempatku kerja kirim pesan "kabarnya kumaha?” (baca:
gimana kabarnya). Aku yang biasanya takut, kali ini aku jawab dengan
senang. Aku bilang aku udah tau apa yang bikin aku berantakan dan apa yang
bikin aku hidup.
Pas di tengah
ngobrol aku jadi inget, jaman kuliah pernah belajar Psikologi Pendidikan. Ya
walaupun ga melotok banget di kepala tapi ada satu teori yang nyangkut, Maslow's Need
Hierarchy Theory atau A Theory of Human Motivation dari
Abraham Maslow. Gaya bener curhat diakhiri teori, gapapa ya biar ada
isinya dikit.
Maslow’s Need
Hierarchy Theory adalah
teori dari Abraham Maslow, yang mengemukakan bahwa manusia dapat termotivasi
oleh lima kategori dasar kebutuhan: fisiologis (physiological),
keamanan (safety), cinta (love), harga diri (self-esteem),
dan aktualisasi diri (self-actualization).
Untuk lebih memahami apa yang memotivasi manusia, Maslow mengusulkan bahwa kebutuhan manusia dapat diatur ke dalam hierarki. Hirarki ini berkisar dari kebutuhan yang lebih konkret seperti makanan dan air hingga konsep abstrak seperti pemenuhan diri (self-fulfillment). Menurut Maslow, ketika kebutuhan yang lebih rendah terpenuhi, kebutuhan berikutnya pada hierarki menjadi fokus perhatian kita (Hopper, 2020). Hierarki ini disusun ke dalam sebuah piramida di bawah ini.
Sumber : Jurnal Maslow's Hierarchy of Needs Explained oleh Elizabeth Hopper, 2020.
Pada
perkembangannya, teori ini mendapatkan kritik dikarenakan terdapat beberapa
kasus dimana manusia tidak sama persis mengikuti urutan pemenuhan diri seperti
piramida di atas. Ada beberapa faktor yang menyebabkan urutan kebutuhan
tersebut bisa berbeda pada setiap orang. Namun teori ini masih relevan untuk
mengelompokkan kebutuhan manusia.
Pada kasusku, aku melihat ternyata yang membuatku kosong dan berantakan adalah tidak terpenuhinya kebutuhanku terutama di kategori kebutuhan Esteem dan Safety Needs. Pada kebutuhan self-esteem kita melibatkan keinginan untuk merasa baik tentang diri kita sendiri. Pada masa sulit, aku merasa ga nyaman dengan diriku sendiri dan selalu merasa kurang. Bagian safety needs bisa jadi aku kurang merasa aman karena aku belum settle secara karir dan ekonomi.
Menurut Maslow, kebutuhan akan penghargaan mencakup dua komponen. Yang pertama melibatkan perasaan percaya diri dan perasaan senang tentang diri. Komponen kedua melibatkan perasaan dihargai oleh orang lain, yaitu merasa bahwa pencapaian dan kontribusi kita telah diakui oleh orang lain. Ketika kebutuhan penghargaan orang terpenuhi, manusia merasa percaya diri dan melihat kontribusi dan pencapaian mereka sebagai sesuatu yang berharga dan penting. Namun, ketika kebutuhan harga diri seseorang tidak terpenuhi, mereka mungkin mengalami apa yang disebut psikolog Alfred Adler sebagai "perasaan rendah diri" (Hopper, 2020).
Jadi solusinya
aku harus terus bergerak, melakukan hal-hal yang kusukai dan menyibukkan diri
dengan kegiatan yang aku anggap baik. Aku merasa waras saat nyaman dengan diri
sendiri. Aku merasa penuh jika bisa bertanggung jawab pada diriku sendiri dan
berguna bagi orang-orang di sekitarku, dengan begitu sepertinya aku bisa mulai
memenuhi harapan masa kecilku untuk menjadi teteh-teteh yang keren, arif dan
bijaksana haha. Ya setidaknya aku udah tau apa yang harus aku lakuin, semoga
bisa sadar dan ga ngomong doang. Kata BTS juga “Let me show you cause talk
is cheap!” ceunah (baca: katanya).
Nah sebagai penutup, aku kutip salah satu cuitan Ustadz kesayangan rakyat Romawi sekaligus pemenang Puskas Award kategori penyair terbaik sebagai pemanis.
Terima kasih
ya,
Salam Hangat.
Referensi:
Hopper,
Elizabeth (2020). Maslow's Hierarchy of Needs Explained.
http://www.christianworldmedia.com/client/docs/603_1585079540_17.pdf



Komentar
Posting Komentar